Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Januari 2015

SEPENGGAL KISAH OM BOB


Pengusaha nasional Bob Sadino meninggal dunia pada Senin (19/1/2015) pukul 18.05, di RS Pondok Indah, Jakarta Selatan. Ia meninggal pada usia 81 tahun lantaran komplikasi penyakit.
Pemilik nama lengkap Bambang Mustari Sadino bin Sadino ini adalah seorang tokoh agribisnis, karena usahanya yang sukses memang berlatar agribisnis. Artikel yang kami sarikan dari sejumlah tulisan Kompas ini, hanya sepenggal kisah Bob Sadino, dari sekian banyak kisah dan pengalamannya yang telah pula disimak banyak orang, sebagai inspirasi dan masukan untuk meraih sukses di bidang usaha.
Banyak orang mengenal sosok Om Bob – demikian dia biasa disapa – baik karena sukses usahanya maupun dari pemikiran atau tingkah lakunya yang nyentrik, yang menurut Bob sendiri justru itu merupakan jati diri yang mendukung dia untuk sukses.
Sering kali dia hanya memakai celana pendek - pada acara-acara formal sekalipun. Dia pernah bercerita, pada tahun 1980-an, ia tetap memakai celana pendek saat menerima kunjungan Presiden Soeharto ke kebunnya yang sekarang menjadi rumahnya.
Alasannya gemar memakai celana pendek? ”Bagi saya, pakaian adalah kepribadian. Soal tudingan bahwa celana pendek simbol tidak menghargai orang lain, itu sekali lagi hanyalah mindset orang kebanyakan. Saya pernah diusir dari Gedung DPR karena semata mengenakan celana pendek. Saya dituntut memakai celana panjang kalau mau masuk ke gedung rakyat itu. Oke, saya mau bertanya. Lebih baik mana, celana pendek tapi dibeli dengan uang sendiri atau celana panjang tetapi dibayar dengan uang rakyat? Ha-ha-ha,” kata Bob.
Bob merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Saat orangtuanya meninggal, Bob mewarisi seluruh harta kekayaan keluarganya karena saudara kandungnya yang lain sudah dianggap hidup mapan. Namun, kehidupannya bukan berarti mudah. Sebab, Bob harus kerja keras untuk mencapai kesuksesannya.
Bob sempat "terdampar" di Belanda selama lebih kurang 9 tahun dan bekerja di perusahaan pelayaran nasional Djakarta Lloyd yang memiliki kantor di kota Amsterdam, Belanda, dan Hamburg, Jerman. Setelah itu, Bob keluar dari perusahaan dan memasuki bisnis sewa mobil. Mobil yang dia sewakan adalah Mercedes miliknya sendiri, dan dia sendiri yang menjadi sopirnya. Dalam perjalanannya, Bob mengalami kecelakaan dan mobil yang dia punyai pun rusak.
Bob kemudian banting setir menjadi kuli bangunan dengan upah harian. Saat itu, dia juga mulai tertarik mengembangkan usaha peternakan ayam. Bob menjadi orang pertama yang mengenalkan ayam negeri beserta telurnya ke Indonesia. Seiring berjalannya waktu, telur ayam negeri mulai dikenal sehingga bisnis Bob semakin berkembang.
Usaha yang dijalankan semakin berkembang. Tak hanya berkutat dengan telur dan ayam, Bob Sadino juga memasuki bisnis sayuran dan penjualan makanan.
Sebagai pengusaha sukses, Bob mengaku mendapatkan ilmu bisnis di "jalanan", bukan di bangku kuliah. Ia adalah pemilik PT Boga Catur Rata, PT Kem Foods, dan PT Kem Farm.
Dari "ilmu jalanan" itu, menurut dia, wirausaha adalah sesuatu yang dilaksanakan, bukan dibicarakan atau didiskusikan.
Semasa hidup, ia tak segan-segan berbagi pengalamannya menggeluti dunia usaha.
Dia menyebutkan, tidak ada dalam usaha agrobisnis yang bermodal duduk dan berpangku tangan. Untuk itu, tawaran berinvestasi dalam agrobisnis yang hanya menyebut "sukses" dan "untung" sudah selayaknya ditinggalkan.
"Semua orang yang tidak tahu agrobisnis selalu mengatakan agrobisnis adalah lahan yang menjanjikan. Sebaliknya orang yang sudah basah kuyup dengan agrobisnis sendiri tidak pernah banyak bicara dan tidak akan berkomentar agrobisnis sebagai sesuatu yang menjanjikan," kata Bob.
Kalau ada orang yang mengatakan agrobisnis menjanjikan adalah orang yang tidak tahu agrobisnis atau tidak pernah bersentuhan dengan agrobisnis itu sendiri. Biasanya orang yang ngomong seperti itu orang yang banyak berteori. Biasanya pakar semacam itu selalu mengatakan agrobisnis menjanjikan.
"Tetapi, kalau yang banyak praktik pasti tidak akan banyak berkomentar. Lebih banyak mengalami dari pada berbicara, orang yang berteori bicaranya lebih keras dari pada yang telah berbuat," kata Bob.
Hal itulah yang menyebabkan kegagalan usaha agrobisnis. Mereka tidak pernah terendam di lumpur agrobisnis namun lebih banyak di ruangan, di belakang meja, dan lebih banyak menggunakan kalkulator hingga agrobisnis memberi mimpi-mimpi indah.
"Inilah yang dilakukan sejumlah orang, bahkan termasuk orang- orang bank yang senang membuat proposal dan menawarkan investasi. Mereka inilah yang menawarkan mimpi sukses agrobisnis," kata Bob. Padahal, orang yang sukses dalam agrobisnis dipastikan akan mengalami kegagalan pada tahap-tahap awal.
Ciri mudah untuk mengetahui siapa yang bisa memenangkan di kegiatan usaha agrobisnis tersebut. Orang yang gagal dalam agrobisnis adalah orang yang pertama kali bermain dan langsung berhasil. Sebaliknya orang yang berhasil adalah orang yang justru berkali-kali gagal, tetapi tetap bertahan di bidang itu hingga berhasil. Dirinya berangkat dan menyiapkan diri untuk gagal. Pada awal mencoba terjun dalam bercocok tanam yang ditemui adalah kegagalan demi kegagalan.
"Orang yang berhasil pada tahap awal pasti akan gagal. Akibat keberhasilan itu lalu orang menduga pasti akan berhasil terus pada ronde berikutnya. Ini yang membuat orang terperosok," katanya.
Salah seorang pendiri Centre for Strategic Studies (CSIS) Jusuf Wanandi mengenang Bob Sadino sebagai seorang pionir dalam usaha makanan di Indonesia. "Bob meninggal sebagai pionir dalam bidang food dan ritel," kata Jusuf.
Menurut dia, sebagai pebisnis, Bob menggunakan konsep bisnis dalam arti luas, yaitu tidak memikirkan keuntungan saja. "Bob itu dalam berbisnis tidak hanya soal bisnis, tetapi juga bagaimana bisnisnya bisa berdampak bagi orang lain. Betapa dia tuh orang yang baik hati," kata Jusuf.
Mantan Presiden BJ Habibie juga terkesan dengan sosok Bob. Menurut dia, Bob adalah orang yang sederhana, pendiam, tetapi pekerja keras. “Jika memiliki cita-cita, ia mau berusaha untuk mencapainya,” ujar Habibie.
Kini, Om Bob telah  tiada. Tapi ilmunya yang telah disebarkan kepada banyak orang, diyakini bakal menjadi peninggalan paling berharga. Terutama bagi yang ingin mengikut jejaknya sebagai pelaku agribisnis sukses.

Selamat jalan Om Bob! (mul)

Minggu, 07 September 2014

KOAD CHAMDI DAN OLAHAN BAWANG CRISPY


PASAR bawang goreng sangat besar, karena hampir setiap rumah tangga menggunakannya. Belum lagi warung makan, restoran, hingga hotel, menjadi pasar potensial penyedap masakan ini. Bagi yang penciuman bisnisnya tajam, bawang goreng bisa disulap menjadi tambang uang. Peluang ini yang dimanfaatkan jeli oleh Koad Chamdi, pemilik merek produk Mdn Crispy 22.
Awalnya, Koad berkecimpung di usaha pembuatan aneka keripik buah. Keripik buah buatan Koad yang dilabeli Mdn Crispy 22 sudah cukup dikenal di Kota Medan dan sekitarnya.
"Tapi dari pengalaman memasarkan keripik buah tersebut, saya melihat satu ceruk pasar yang besar dari bisnis olahan lain, yakni bawang goreng," kata Koad di kediaman sekaligus tempat produksinya, Jalan Anugerah VII/11 Kompleks Cemara Abadi, Sampali, Percut Sei Tuan.
Jadilah, sekitar dua tahun lalu dia melakukan diversifikasi usaha pembuatan bawang goreng. Hasilnya, produksi rumahan yang juga masih memakai merek Mdn Crispy 22 ini mampu masuk ke pasar-pasar potensial Kota Medan, mulai dari kios kecil hingga supermarket, warung makan hingga restoran besar.
Bukan itu saja, bawang goreng Crispy 22 juga telah menembus pasar luar kota, hingga ke Bandung, Yogyakarta dan Papua. "Kebetulan ada anak saya yang kuliah di Yogyakarta, juga keluarga yang bekerja di Papua. Sekarang mereka rutin order bawang goreng rata-rata 20 kg per bulan," ujarnya.
Kini Koad terus menjajaki pasar yang lebih luas yakni Batam, Pekanbaru dan Jakarta. Tentunya termasuk ke luar negeri. "Bawang goreng Crispy 22 memang sudah merambah sampai ke Malaysia, sejumlah TKI kadang membawanya dalam jumlah tertentu dan menjualnya lagi di sana. Di musim haji, banyak juga jamaah yang membawa bekal bawang goreng ini. Tapi ke depan saya ingin pemasaran yang resmi," ungkapnya.
Apa yang membuat bawang goreng produksi Koad istimewa? Dari tampilannya, jelas perbedaan Crispy 22 dengan produk lain yang diproduksi secara konvensional. Crispy 22 terlihat lebih segar, tidak berwarna hitam, tidak berminyak, dan tentu saja sesuai namanya lebih crispy. Ini dikarenakan tehnik pembuatan serta tehnologi yang dipakai di antaranya penggunaan spiner untuk meniriskan minyak. Apalagi hasilnya dikemas apik dan steril, membuat bawang goreng tak mudah apek dan tentu saja lebih higienis.
Satu lagi yang membuat Crispy 22 beda, Koad menyajikannya dengan aneka varian mulai dari original, pedas, teri pedas, serta yang terbaru abon cabe udang. "Bawang goreng teri pedas agak istimewa karena memang dicampur dengan teri Medan. Sementara abon cabe udang, tetap menggunakan unsur bawang tapi bawang putih," jelasnya.
Dengan inovasi produk tersebut, respons pasar ternyata cukup besar. "Sejak varian baru ini keluar September 2011, permintaan mulai berdatangan hampir menyamai permintaan bawang goreng original. Sekarang saya agak kewalahan memenuhi permintaan pasar, terutama untuk bawang goreng teri pedas," imbuh Koad.
Rata-rata, tiap hari dia memproduksi 30 kg bawang goreng original, 15 kg bawang teri pedas dan 10 kg bawang pedas. Harga yang ditawarkan variatif mulai dari Rp 13.000 untuk bawang original, Rp 19.000 bawang pedas dan Rp 25.000 bawang teri pedas dalam tiap kemasan 100 gr. Omset yang dicapainya pun cukup lumayan, sekitar Rp 40 juta hingga Rp 45 juta per bulan.
Untuk produksi sebanyak itu, Koad menghabiskan tiga sampai empat ton bawang merah yang dipasok langsung dari Kabupaten Samosir. Dia pun memberdayakan masyarakat sekitar kediamannya terutama kaum ibu untuk mengupas bawang dengan upah Rp 2.000/kg, sementara untuk merajang bawang dia mempunyai karyawan sendiri.
Selaku pelaku usaha kecil dan menengah (UKM), Koad paham betul mendedikasikan potensinya untuk masyarakat. Selain menyertakan masyarakat sekitar guna bekerja mengupas bawang, dia pun membuka diri untuk berbagi ilmu bagi siapa saja yang ingin belajar usaha tersebut.
"Yang ingin lebih tahu produksi ini atau ingin belajar pembuatannya, silahkan hubungi saya di nomor 081265005353 atau email koad.ch@gmail.com," ucapnya.
Termasuk juga untuk terlibat dalam pemasaran. "Silahkan saja, saya tidak membatasi produk saya ini dikuasi satu distributor, melainkan saya bebaskan siapa saja yang ingin ikut memasarkannya asal tidak saling tumpang tindih. Dengan begitu, saya juga terbantu karena bisa lebih konsentrasi di produksi," katanya.#

SAFRIL, PIONIR BUDIDAYA LELE PHYTON DI SUMUT


SIAPA yang tak kenal lele? Ikan dengan kumis panjang ini akrab di telinga masyarakat dan menjadi pilihan untuk usaha. Selama ini varietas lele bertumpu pada lele dumbo dan sangkuriang. Kini, muncul lele jenis baru bernama python yang dikembangkan di Sumatera Utara.
Adalah Safril Ketua Pembudidayaan Lele Python Langkat yang mengklaim lele python lebih menjanjikan dibanding lele dumbo. Safril mengembangkan lele python di kawasan Desa Banyumas, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, beberapa tahun terakhirTidak hanya mengedepankan bisnis, Safril membagikan bibit lele secara gratis kepada masyarakat, agar bisa memulai usaha pengembangbiakkan lele python. Kelak, dia ingin Langkat menjadi sentra pembudidayaan lele phyton di Sumatera Utara dan bisa membantu ekonomi rakyat Langkat.
"Kami melihat sentra-sentra ekonomi untuk kerakyatan mana yang bisa lebih membantu income masyarakat. Misalnya untuk membantu uang sekolah anak dan lainnya. Kami melihat lele python pilihan yang bagus,” ujarnya.
Di lahan seluas 1.600 meter dan dengan 24 kolam yang diisi lele, Safril mengungkapkan pilihannya memilih lele python. Berangkat dari keresahannya agar ekonomi rakyat bisa terangkat. Safril bersama beberapa temannya, sepakat membuat budidaya lele. “Kami melihat ikan lele jumbo baru bisa dipanen dalam tiga bulan, ikan gurame selama enam bulan. Kalau lele python hanya satu bulan setengah sudah bisa dipanen dan dijual dengan rata-rata lima sampai delapan ekor satu kilo,” ujarnya di lokasi Pembudidayaan Lele Python, Desa Banyumas, Kecamatan Stabat, Kabupaten Langkat, Sumnatera Utara.
Dia menambahkan, meski varietas baru, lele python tidak sulit dipelihara. Lele Phyton merupakan perkawinan silang antara Lele Afrika dan Lele Thailand. Hampir sama dengan lele pada umumnya, namun tingkat kematian lele ini hanya 5-10 persen. Persentase rendah ini tercapai, karena sejak kecil sudah diberikan imune. Salah satu indikator tingginya kualitas lele phyton bisa dilihat dari konversi pakannya. Memiliki FCR (Food Convertion Ratio) 1:1, maka satu kilogram pakan yang diberikan kepada lele phyton juga akan menghasilkan sekilo daging. Bandingkan dengan FCR milik lele sangkuriang yang punya perbandingan 1: 0,81.
“Sejak bayi sudah kami berikan imune berupa super tetra, agar bisa aman terjamin. Lele ini lebih lincah dibanding lele lainnya dan bentuknya agak ramping. Kalaupun lele ini berkelahi sesama jenisnya, dan ada yang luka kena patil, maka lukanya cepat sembuh,” timpalnya.
Untuk bisa mengembangkan budidaya lele ini, mantan anggota DPRD Langkat periode 1999-2009 ini harus terbang ke Kabupaten Pandeglang, Banten. Daerah ini menjadi sentra pembudidayaan lele python kali pertama di Indonesia. Di Padeglang, Ketua PDIP Langkat serius mempelajari detail cara pembudiyaan lele ini langsung dari para ahli. Kurang lebih dua minggu, bapak lima anak ini berada di Padeglang.
Setelah itu, saat kembali ke Sumatera Utara, Safril membeli 10 pasang indukkan untuk dikembangkan. Satu indukan dibelinya Rp3 juta. Tak disangka, sampai di Medan, wilayah pembudidayaan yang sudah siap pakai, langsung difungsikan. Lele tersebut sukses dipanen dan sudah punya ribuan bibit.
Kini Safril mengenalkan dan membagikan bibit lele ini untuk dimanfaatkan warga. Masing-masing kelompok masyarakat peternak ikan mendapatkan bibit dan dia pun memberikan penyuluhan gratis kepada masyarakat yang ingin tahu bagaimana cara memelihara lele ini.
Sejatinya, kata Safril, Langkat bukan daerah pertama di Sumatera Utara yang mengembangkan lele ini. Sebelumnya, Safril membuka di Batubara, sayang karena kurang dukungan, Safril lantas membuka di Langkat dan tak dinyana sukses sesuai target, bisnis dan misi sosial. “Sekarang, ini jadi yang pertama di Sumatera Utara,” ungkapnya.
Safril tidak meragukan pangsa pasar lele jenis baru ini. Meski masih samar terdengar di Sumatera Utara, dia yakin usaha ini sangat menjanjikan dibanding lele jenis lain. Di Pandeglang saja, lele jenis ini sudah menjadi pilihan dalam usaha lele penyet atau pecal lele.
Satu yang menjadi keunggulan varietas lele ini tak lain produktivitas tinggi mencapai 30 sampai 50 ribu sekali bertelur. Dengan stok yang kini dipunyai Safril mencapai 300 ribu ekor ikan, sudah banyak permintaaan dari daerah lain. Aceh, Pekanbaru sudah mengirimkan permintaan 75 ribu ekor. “Provinsi lain sudah meminta pesanan sampai 75 ribu ekor, namun kami belum bisa memenuhi semua. Karena, kami harus pastikan di Sumut dulu,” tegas mantan pemain klub sepakbola Indonesia, PSMS Medan era 80-an ini.
Dia mengurai dalam 1000 ekor lele ini, masyarakat sudah bisa mendapatkan paling sedikit Rp800 ribu sekali panen. Dalam 1000 ekor bisa menghasilkan 120 kg lele. Jika lele dumbo dijual Rp15 ribu per kilo, maka lele python cukup Rp12 ribu per kilo saja sudah menguntungkan. Satu bibit lele dijual Safril seharga Rp100 sampai Rp400 tergantung jenis. Untuk bibit lele 06 dihargai Rp100, 08 Rp200, 010 Rp300 dan 012 Rp400. Harga bibit ini memang terbilang sangat murah. Harga yang disengaja, agar masyarakat mampu membeli. Untuk bibit 012, lanjut Safril sudah termasuk bibit unggul yang bisa dipanen sebelum masa sebelum setengah.
“Di luar sumbangan bibit gratis, jika untuk masyarakat ingin membeli 1000 ekor bibit menghabiskan dana Rp200 ribu ditambah pakan Rp500 ribu, jadi biaya hanya Rp700 ribu. Sementara dengan harga jual Rp12 ribu per kilo sudah bisa menghasilkan kurang lebih Rp1,5 juta. Makanya saya bilang ini menguntungkan. Kami juga menerima hasil panen warga, jika mereka kesulitan memasarkannya,” ungkapnya.
Pria kelahiran 11 Agustus 1960 ini mengatakan, dari 24 kolam yang dibuat di lokasi pembudidayaan sudah 12 kolam yang habis, lantaran dibagi-bagikan ke warga. “Jadi konsepnya, kami berikan gratis ke masyarakat hanya untuk kali pertama. Kami tidak akan berikan untuk orang yang sama kedua kali. Saya memang tidak terlalu memikirkan profiit dulu saat ini, yang penting masyarakat Langkat bisa ikut membudidayakan lele ini dan bisa menambah penghasilan keluarganya. Semoga lele ini juga bisa jadi komoditi yang terkenal dari Langkat,” bebernya.
Namun, Safril tidak menutup peluang bagi masyarakat di daerah lain di Sumatera Utara yang ingin mendapatkan bibit gratis darinya. “Boleh, dari daerah lain boleh minta. Akan kami berikan, sepanjang benar-benar dipelihara dan dikembangbiakkan,” tuturnya.
Alumni IAIN Padang ini mengatakan awal membangun Sentra Pembudidayaan Lele Python di Langkat, menghabiskan dana Rp50 juta. Ini mulai dari pembuatan kolam, bibit, dan biaya operasional lainnya. Untuk kolam, Safril tidak hanya bertumpu pada kolam tanah dan batu, namun dia memanfaatkan bahan plastik terpal berwarna biru. “Jadi tidak harus repot kalau memang mau. Jika lokasi di rumah terbatas, tinggal ambil bambu dan dirangkai sederhana dan dialasi terpal sudah bisa kok,” timpalnya.
Saat memulai ini, Safril juga sempat mengalami kendala, yakni kehilangan indukkan yang dari pertama dia beli di Pandeglang lantaran hanyut saat hujan deras di lokasi. “Ada yang sudah sebesar anak bayi, tapi hanyut saat banjir besar. Saya perkiraan kolam tidak akan menguap, rupanya salah prediksi. Tapi sekarang sudah diantisipasi,” tukasnya.
Soal nama lele ini, Safril mengaku cukup unik. Selain sudah dikenal di Pandeglang, dia suka menyebutnya sebagai lele yang fit dan lincah dengan beratnya ber ton-ton. “Rasanya juga lebih enak, karena lele ini gesit. Jadi kandungan lemak di dalam tubuhnya sedikit. Apalagi, lele mengandung omega tiga yang baik untuk tubuh,” ucapnya.
Safril mengaku modal awal Rp50 juta itu tidak jadi masalah, melihat antusias warga sangat luar biasa, termasuk Bupati Langkat, Ngogesa Sitepu. Bupati juga hadir dalam peresmian lokasi sentra pembudidayaan lele python ini. Beliau memberikan apresiasi kepada Safril, karena mau berkreasi dan berbuat untuk menaikkan pendapatan masyarakat melalui budidaya lele ini. Pada saat peresmian tersebut, Ngogesa Sitepu bahkan memberikan bantuan Rp20 juta kepada Safril dkk untuk pembuatan pakan lele (pelet) agar bisa berguna bagi semua masyarakat.
Kini, Safril mempersilahkan masyarakat yang ingin membudidayakan jenis ikan ini, untuk datang ke tempatnya, belajar dan berdiskusi mengenai tehnik-teknik budidaya. Atau mempersilahkan menghubunginya di nomor 087882199522/08126560682.

#
(Sumber : Majalah Pengusaha Indonesia)

Jumat, 05 September 2014

ARIADI KEMBANGKAN USAHA GULA TEBU

Awalnya Ariadi tidak pernah berpikir akan memiliki usaha pengolahan gula tebu, apalagi saat itu dia hanya bekerja sebagai sales gula tebu di Tanjung Morawa. Namun, setelah merasakan ”manisnya” usaha gula tebu, walau hanya sebagai sales, Ariadi pun termotivasi untuk terjun langsung memproduksi sendiri.
Dia melihat permintaan gula tebu di pasaran cukup besar. Dia pun membanting setir. Dia membuat sendiri gula tebu dengan mendatangkan bahan baku dari Aceh. Kini Ariadi bisa memproduksi gula tebu hingga empat ton per bulannya.
“Nggak mau makan gaji buta dan saya ingin berkembang,” katanya saat ditemui MedanBisnis di rumah produksinya, kawasan Kecamatan Terjun, Medan Marelan.
Ariadi mengisahkan, dia memulai usahanya itu sejak empat tahun lalu. Dia dibantu tiga tenaga kerja dari warga setempat, bahkan sempat berpindah rumah produksi beberapa kali. Dalam perjalannya, gula tebu yang mereka buat mendapatkan respon baik dari konsumen. Meski baru dipasarkan di Kota Medan dan sekitarnya, ternyata permintaan tetap tinggi, bahkan ada yang datang dari Sibolga.
Dijelaskannya, kalau harga gula tebu lebih ekonomis dibandingkan gula aren. Per kilonya dia memasarkan mulai Rp 8.700 hingga Rp10.500. Tentunya tergantung kualitas.
“Gula tebu ini ada klasifikasi. Gula tebu untuk jamu Rp 8.700 per kilonya, gula tebu biasa dengan kualitas nomor dua, Rp 9.200, gula tebu sedang Rp 10 ribu, kemudian gula tebu enak Rp 10.500 per kilo,” terang Ariadi.
Ariadi yang juga anggota Koperasi Masyarakat Sejahtera ini mengaku belajar membuat gula tebu secara otodidak. Awalnya dia bisa membuat sampai 300 kg per hari. Modal awalnya juga tidak besar-besar sekali, hanya Rp 6 juta. "Modal awalnya dari uang celengan. Jumlahnya sekitar Rp 6 jutaan. Dengan uang itu sudah dapat bahan baku lengkap dengan alat," kenangnya.
Ditambah modal jaringan yang sudah dimilikinya saat menjadi sales, dia pun memasarkan produk tersebut di wilayah Kota Medan dan sekitarnya. Hasilnya tidak begitu mengecewakan.
Tingginya permintaan, menurut Ariadi, untuk memenuhi permintaan gula aren yang tinggi di pasar.
Sementara jumlah gula aren yang ada tidak mampu memenuhi kebutuhan. Sehingga gula yang satu ini bisa menjadi alternatif.
Gula tebu yang dibuatnya, menurut Ariadi, diolah dari gula tebu setengah jadi dengan menambahkan sebagian gula pasir. Hal itu dilakukannya untuk mendapatkan kualitas gula terbaik. Setidaknya gulanya bisa bertahan selama sebulan di ruang terbuka dan lebih lama kalu disimpan di lemari pendingin.
Kalau balik ke belakang, sebetulnya Ariadi juga sempat memproduksi gula kelapa dengan mendatangkan bahan baku dari Pulau Jawa. Namun, usaha itu tidak berlanjut karena sering terkendala bahan baku.
Kini, dia sudah menetapkan pilihan dengan membuat gula tebu, apalagi omzet usahanya itu bisa berkisar Rp 36 juta hingga Rp 40 juta dengan margin keuntungan sekitar 10%. “Biaya operasionalnya tinggi. Marginnya hanya sekira 10 persen saja,” terangnya.
Dalam berusaha, menurut dia persoalan cuaca bisa menjadi kendala tersendiri. “Kalau panas, bahan bakunya cantik, kalau hujan jelek,” kata pria yang mengaku tidak mau hanya makan gaji saja. Ada satu hal yang disayangkannya, selama membuat gula tebu, dia mengaku belum pernah mendapatkan pembinaan dari instansi manapun untuk mengembangkan usaha dan pasarnya.
(Sumber : Harian MedanBisnis)